Minggu, 06 Mei 2018

Pengujian Instrumen dalam Metode Penelitian Bisnis

PENGUJIAN INSTRUMEN DALAM METODE PENELITIAN BISNIS

Disusun Oleh:
Nama Mahasiswa : Joko Waluyo
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Hapzi Ali, MM, CMA


I.  PENDAHULUAN

            Salah satu tahapan dalam penelitian ilmiah  adalah pengujian instrument penelitian.  Kegiatan pengujian instrument dilakukan setelah dilakukannya operasionalisasi variable atau pengukuran variable.  Dalam beberapa literature menyebutkan bahwa pengukuran variable merupakan bagian dari proses penelitian setelah kita menentukan subyek penelitian.  Operasionalisasi variable merupakan kegiatan yang berupa pengembangan instrument penelitian untuk mendapatkan data dari subyek penelitian.  Agar operasionalisasi variable dapat digunakan  maka diperlukan adanya atribut variable. 
Pengukuran variable perlu menjelaskan tentang instrument (metode atau teknik) yang digunakan untuk memperoleh data mengenai variable penelitian, yang pada dasarnya terdiri atas observasi, wawancara, dan angket atau kuisioner.  Skala skor/kode tiap variable harus diidentifikasi, apakah tergolong ke dalam skala nominal, ordinal, interval atau rasio. 
Terdapat lima tahapan pengukuran variable (Aritonang, 2016), yaitu: (1) Pendefinisian variable secara konseptual dan pengidentifikasian atribut variable, (2) Penampakan atribut yang akan diukur dan penciptaan kondisi untuk memunculkan atribut, (3) Pengembangan instrument, (4) Pengidentifikasian skala  pengukuran dan penentuan kode atau skor, dan (5) Penilaian reliabilitas dan validitas instrument. 
Penilaian reliabilitas dan validitas instrument merupakan tahapan terakhir dalam pengukuran variable.  Tahapan ini bermaksud untuk menguji kualitas instrument dan pada umumnya mencakup penilaian validitas dan realibilitas.  Yang termasuk ke dalam penilaian validitas adalah apakah instrument yang akan digunakan dapat digunakan untuk mengukur variable yang telah ditentukan, sedangkan penilaian reliabilitas dilakukan untuk mengentahui apakah instrument yang ada dapat menghasilkan ukuran yang konsisten.
  


II.  PEMBAHASAN


A.    Validitas (Kesahihan)
Validititas, dalam bahasa Indonesia adalah sahih. Menurut Azwar (1986), validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurannya.  Sedangkan menurut Cooper xan Schindler dalam Zulganef (2006) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan bahwa variabel yang diukur memang benar-benar variabel yang hendak diteliti oleh peneliti. 
 Instrumen yang dapat mengukur variable yang dimaksudkan untuk diukur disebut valid (Aritonang, 2016).  Validitas suatu instrument banyak dijelaskan dalam konteks penelitian social yang variabelnya tidak dapat diamati secara langsung, seperti sikap, minat, persepsi, motivasi dan lain-lain.  Validitas instrument juga digunakan untuk mengukur variable yang demikian sulit untuk mengembangkan instrument yang memiliki validitas yang tinggi karena karakteristik yang akan diukur dari variable yang demikian tidak dapat diobservasi secara langsung, tetapi hanya melalui indicator tertentu.
Tipe validitas menurut asosiasi psikologi amerika membedakan validitas menjadi tiga tipe, yaitu validitas isi, validitas yang dikaitkan dengan kriteria dan validitas konstrak.

1. Validitas isi
Validitas isi atau content validity adalah validitas yang diperhitungkan melalui pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional.  Validitas isi yang baik adalah apabila semua karakteristik variable yang dirumuskan pada definisi konseptualnya dapat diungkapkan melalui butir-butir suatu instrument.  Untuk menganalisis validitas isi dapat dengan cara memperhatikan penampakan luar dari instrument dan dengan menganalisis kesesuaian butir-butirnya dengan karakteristik yang dirumuskan pada definisi konseptual variable yang diukur. 
Menurut Saefudiin Azwar, validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgment.  Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validitas isi adalah sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan ini (dengan catatan tidak keluar dari batasan tujuan ukur obyek yang hendak diukur) atau sejauh mana isi tes mencerminkan ciri atribut yang hendak diukur.
Aritonang (2016) membagi validitas isi menjadi dua tipe yaitu:
  • ·    Validitas yang dianalisis dengan memperhatikan penampilan luar instrument  disebut validitas tampang (face validity).  Validitas tampang dievaluasi dengan membaca dan menyelidiki butir-butir instrument serta sekaligus membandingkannya dengan definisi konseptual mengenai varaibel yang akan diukur.
  • ·     Validitas yang dianalisis dengan memperhatikan kerepresentativan butir-butir instrument atau disebut dengan validitas penyampelan (sampling validity) atau disebut juga dengan validitas kurikulum (curriculum validity). 

Baik validitas tampang maupun validitas penyampelan disebut juga sebagai validitas teoritis karena penganalisannya dilakukan tanpa didasarkan pada data empiris.  Selain itu validitasnya lebih dikaitkan dengan teori (definisi konseptual) variable yang diukur.  Alat yang digunakan untuk menganalisis validitas itu adalah logika dari orang yang menganalisisnya. 
Analisis atas validitas isi suatu instrument, misalnya angket paling sedikit harus menjawab pertanyaan mengenai apakah butir-butir yang dibuat akan dapat mengungkap secara rinci dan menyeluruh keberadaan atribut-atribut (karakteristik, kualitas, ciri) variable yang dimasukkan untuk diukur.  Jika jawabannya “ya” maka angket itu dinyatakan valid dari segi isinya.  Pertanyaan berikutnya yang perlu diajukan adalah apakah tidak ada butir-butir tsb yang tujuannya adalah untuk mengungkap hal lain yang tidak termasuk pada definisi variable yang dimasukkan untuk diukur melalui angket? Jika jawabannya adalah “tidak” maka angket itu adalah valid.  Pertanyaan berikutnya adalah apakah orang-orang yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu akan memiliki pengertian yang sama dengan pengertian dari pembuat butir atas butir-butir tersebut.  Jika jawabannya “ya”, maka angket itu dinyatakan valid.

2. Validitas  yang dikaitkan dengan kriteria
Validitas ini dikaitkan dengan analisis dengan menggunakan instrument lain sebagai patokan atau kriterianya, dengan kata lain untuk menganalisis validitas ini dibutuhkan setidaknya dua instrument, yaitu:
  • ·         Satu instrument yang baru dibuat dan akan dianalisis validitasnya, dan
  • ·         Satu instrument yang telah teruji validitas dan realibilitasnya serta berfungsi sebagai kriteria.

Validitas kriteria terpenuhi jika pengukuran membedakan individu menurut suatu kriteria yang diharapkan diprediksi.  Hal tersebut bias dilakukan dengan menghasilkan validitas konkuren (concurrent validity) maupun validitas prediksi (predictive validity).  Validitas konkuren dihasilkan jika skala membedakan individu yang diketahui berbeda, yaitu mereka menghasilkan skor yang berbeda pada instrument, sedangkan validitas prediksi menunjukkan kemampuan instrument pengukuran untuk membedakan orang dengan referensi pada suatu kriteria masa depan (Sekaran, 2006).  Dengan demikian perbedaan antara Validitas konkuren dengan Validitas prediktif adalah waktu pengujian, dimana Validitas konkuren diambil dalam waktu yang sama (atau kurang lebih sama), sedangkan Validitas prediktif dilakukan beberapa saat (dalam periode waktu tertentu) setelah terlebih dahulu skor tes diperoleh.
Hal-hal yang membedakan antara Validitas prediktif dengan concurrent validity antara lain:
·     Concurrent validity berfungsi untuk mengukur kesesuaian antara hasil ukur instrument dengan hasil ukur lainnya yang relevan sudah teruji, sedangkan Validitas prediktif memiliki fungsi prediksi dengan skor yang relevan di masa depan.
·   Validitas prediktif cocok digunakan untuk untuk seleksi atau klasifikasi personil, seperti seleksi / rekrutmen pegawai baru, penempatan kerja, memprediksi prestasi akademik berdasarkan tes potensi akademik, sementara Validitas konkuren tidak ditujukan untuk memprediksi masa depan
Untuk menentukan suatu instrument memiliki validitas prediktif dan konkuren yang memadai,kita dapat melakukan uji signifikansi, atau dapat dengan menggunakan koefisien validitas minimal tertentu.  Cronbach (1990) menyatakan bahwa validitas prediktif (r) suatu instrument sebesar -0.75 tergolong sangat memprihatinkan, -0.05 tergolong jelek, 0.45 tergolong moderat dan 0.60 tergolong baik. Lebih lanjut Cronbach mengemukakan bahwa tidak biasa menemukan validitas lebih besar daripada 0.6 (>0.6) karena situasi social berubah terus dan karena perubahan itu menyebabkan prediksi yang sempurna merupakan sebuah kenistaan. 

3.  Validitas konstrak
Konstruk adalah sesuatu yang berkaitan dengan fenomena dan obyek yang abstrak, tetapi gejalanya dapat diamati dan diukur.  Validitas konstruk mengandung arti bahwa suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan konstruksi teoritik dimana tes itu dibuat .  Sebagai misal: sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila soal-soalnya mengukur setiap aspek berfikir seperti yang diuraikan dalam standar kompetensi. 
Konstruksi yang dimaksud dalam uji validitas ini adalah rekaan psikologis yang berkaitan dengan aspek-aspek ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis sintesis dan evaluasi.  Konstruk adalah peringai yang tidak dapat diamati, yang menjelaskan perilaku.  Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut.  Pengujian validitas konstruk merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai aspek yang diukur.

B.     Reliabilitas
Reliabilitas adalah suatu keajegan, dapat dipercaya ataupun pengukuran yang tanpa ada kesalahan (Walizer, 1987; John M Echols dan Hasan Shadily, 2003; Popham; 1995).  Reliabilitas merupakan konsistensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur.  Reliabilitas berbeda dengan validitas, artinya bahwa pengukuran yang dapat diandalkan akan mengukur secara konsisten, tapi belum tentu mengukur apa uang seharusnya diukur.  Di dalam penelitian, reliabilitas adalah penilaian sejauh mana pengukuran dari suatu tes tetap konsisten setelah dilakukan berulang-ulang terhadap subjek dan dalam kondisi yang sama.  Penelitian akan dianggap dapat diandalkan apabila memberikan hasil yang konsisten untuk pengukuran yang sama.
Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode statistik.  Cara menghitung reliabilitas sebuah instrument dapat dilakukan dengan dua cara yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas (Feltd dan Brennan, 1989). Kesalahan pengukuran merupakan merupakan rangkuman inkonsistensi peserta tes dalam unit-unit skala skor, sedangkan koefisien realibilitas merupakan kuantifikasi  realibilitas dengan merangkum konsistensi (atau inkonsistensi) diantara beberapa kesalahan pengukuran.
Koefisien reliabilitas suatu instrument dapat diestimasi dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan eksternal dan pendekatan intenal.  Pendekatan eksternal atas koefisien reliabilitas dapat dilakukan dengan metode pengukuran ulang dan metode bentuk paralle (Aritonang, 2016).

Pendekatan Eksternal
1. Metode pengukuran ulang
Pendekatan pengukuran ulang merupakan pemberian perangkat tes yang sama terhadap sekelompok subyek sebanyak dua kali dengan selang waktu yang berbeda.  Asumsinya adalah bahwa skor yang dihasilkan oleh tes yang sama akan menghasilkan skor tampak yang relative sama.  Estimasi dengan pendekatan tes ulang akan menghasilkan koefisien stabilitas.  Untuk memperoleh koefisien reliabilitas melalui pendekatan tes ulang  dapat dilakukan dengna menghitung koefisien korelasi linear antara distribusi skor subyek pada pemberian tes pertama dengan skor subyke pada tes kedua. 
Kelemahan pengukuran ulang untuk mendapatkan koefisien reliabiltas antara lain:
  •  Subyek penelitian mungkin tidak dapat mengikuti kedua pengukuran yang dilakukan.
  •  Apabila jumlah butir instrumennya tergolong banyak, para subyek dapat mengalami kelelahan dan bosan sehingga mempengaruhi hasil yang diperolehnya.
  •  Kemungkinan ada efek belajar karena subyek dapat mempelajari butir-butir instrument pada waktu pengukuran pertama.
  • Variable yang diukur kemungkinan peka terhadap waktu.  Jika variable yang diukur sangat berkaitan dengan perkembangan subyek dan subyeknya adalah anak-anak yang masih dalam masa perkembangan, dan jarak waktu pengukuran antara pertama dan kedua tergolong cukup lama, maka hasil pengukuran yang diperoleh sangat mungkin untuk berbeda.


2.  Metode Bentuk Paralel
Metode bentuk parallel, menggunakan pendekatan dua instrument yang sejenis (parallel) pada subyek yang sama.  Koefisien reliabilitas melalui pendekatan metode ini merupakan koefisien korelasi antara kedua skor yang diperoleh melalui kedua instrument.  Jika koefisien korelasinya tegolong positif dan besar atau signifikan, maka kedua instrument dinyatakan reliabel, dan juga sebaliknya.
Kelemahan metode parallel ini untuk mendapatkan koefisien reliabilitas adalah:
a.       Kesulitan membuat atau memperoleh dua instrument yang parallel yang sejenis. 
b.   Dengan menggunakan dua instrument maka butir-butir kedua instrument akan menjadi banyak sehingga menyebabkan subyek lelah dan bosan dan berdampak pada hasil pengukuran yang diperoleh menjadi tidak reliabel.

Pendekatan Internal
Yang membedakan pendekatan internal dengan pendekatan eksternal, adalah dalam pendekatan internal,hanya menggunakan satu instrument yakni instrument yang akan diuji reliabilitas dan validitasnya. Pendekatan internal atas reliabilitas dapat diukur dengan empat metode, yaitu: (1) Metode Bagi Dua, (2) Metode Kuder-Richardson (KR), (3) Metode Alpha Cronbach, dan (4) Metode Pemodelan Persamaan Structural.

C.     Hubungan antara Validitas dengan Reliabilitas
Berikut ini  hal-hal yang menggambarkan hubungan antara validitas dengan reliabilitas.
  1.  Nilai koefisien realibitas yang rendah kemungkinan akan dapat diterima apabila memiliki validitas yang tinggi.
  2.  Konsistensi internal yang tinggi meupakan prasyarat atas validitas yang tinggi, namun nilai konsistensi internal yang sangat tinggi secara actual menjadi antithesis atas validitas.
  3. Secara statistic, reliabilitas merupakan bagian dari validitas
  4. Dapat dimungkinkan memiliki reliabilitas tanpa validitas, namun tidak berlaku sebaliknya.
  5. Makin rendah reliabilitas predictor dan kriteria, makin rendah validitasnya.  Makin tinggi saling korelasi butir-butir instrumennya, maka makin valid instrumennya.
  6. Validitas dan reliabilitas suatu instrument berkaitan dengan jumlah butir instrumennya.



III.  PENUTUP
Validitas dan reliabilitas merupakan bagian penting dalam proses penelitian.  Validitas dan reliabilitas menentukan kehandalan data yang akan digunakan dalam tahapan analisa data.  Data yang dianalisis untuk menjawab rumusan masalah atau untuk menguji kebenaran empiris hipotesis penelitian harus memenuhi syarat minimal tertentu, yakni reliabel dan valid. Jika tidak demikian, maka kesimpulan yang dihasilkan dari analisis itu menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan. Reliabilitas dan validitas data diuji melalui instrumen yang digunakan untuk memperoleh data itu



REFERENSI:

Aritonang, Lerbin. R. 2016. Buku Materi Pokok: Metode Penelitian Bisnis. Universitas Terbuka

Penulisan Latar Belakang Sebuah Penelitian

PENULISAN LATAR BELAKANG, RUMUSAN MASALAH,  TUJUAN
DAN MANFAAT PENELITIAN DALAM SEBUAH PENELITIAN
 
Disusun Oleh:
Nama Mahasiswa : Joko Waluyo
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. Hapzi Ali, MM.


  









I.      PENDAHULUAN

Setiap Penulisan karya ilmiah tidak bisa terlepas dengan adanya latar belakang dari adanya penulisan karya ilmiah tersebut.  Latar belakang merupakan awal dari bagian penulisan ilmiah dan biasanya berada di bab pertama (bab pendahuluan). Bab pertama pada suatu penulisan ilmiah biasanya berupa latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian.   
Banyak sekali peneliti utamanya peneliti pemula yang kesulitan memulai penulisan karya ilmiah Karena kesulitan memutuskan apa yang akan dimasukkan dalam latar belakang masalah, hasil-hasil penelitan apa yang perlu dikutip sebagai landasan dalam mendukung tulisan apa yang akan disampaikan dalam latar belakang tersebut. 
Sehubungan dengan beberapa permasalahan yang sering dialami para peneliti yang utamanya para peneliti pemula yang kesulitan menyampaikan informasi dalam latar belakang, maka melalui penulisan artikel ini setidaknya akan sedikit membantu bagi para peneliti ataupun penulis pemula tentang apa itu latar belakang, apa saja yang biasanya dituliskan dalam latar belakang, pembatasan permasalahan yang akan ditulis/diteliti, rumusan masalah dan tujuan dari penulisan ilmiah dimaksud serta manfaatnya. 
 





















II.      PEMBAHASAN


A.  Latar belakang Masalah

Bab pertama dalam penulisan ilmiah baik berupa penelitian maupun karya ilmiah, diawali dengan pendahuluan.  Pendahuluan merupakan bab pertama yang mengarahkan pembaca mengenai topik yang akan ditulis, alasan kenapa topik tersebut diangkat/dibahas serta pentingnya untuk dilakukan pembahasan/penelitian terhadap topik yang diangkat tersebut.  Isi pada bab pendahuluan pada suatu laporan penelitian lebih komplek dibandingkan dengan pada karya ilmiah ataupun sebuah artikel.
Bagian latar belakang masalah memberikan informasi mengenai alasan – alasan mengenai pengangkatan topik yang akan dibahas dalam laporan penelitian ataupun karya ilmiah.  Pada bagian awal latar belakang ini untuk mendukung topik yang diangkat dapat diberikan penjelasan mengenai topik dimaksud.  Penjelasan dimaksud dapat dimulai dari hal-hal yang bersifat umum dilanjutkan kearah hal-hal yang bersifat khusus mengenai topik penulisan (Aritonang, 2016).  Topik yang diangkat merupakan gambaran situasi dan kondisi yang ada dilapangan baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus yang dilengkapi dengan data dan fakta dilapangan.  Kesenjangan antara apa yang seharusnya terjadi (yang timbul berdasarkan target, teori, aturan dan ketentuan) dan kenyataan yang ada.  Kesenjangan yang dapat diteliti selain dalam kondisi social, dapat juga kesenjangan penelitian dan kesenjangan teori.  Kedua masalah ini tidak dimasukkan untuk memecahkan permasalahan, namun untuk membenarkan atau mengoreksi penggunaan metode yang tepat dalam penerapan atau memperbaiki teori yang sudah ada (Hapzi Ali dalam https://hapzi-ali.com/daftar-ebook/ebook-metodologi-penelitian/).
Ketika permasalahan utama yang akan diteliti sudah ditemukan, maka permasalahan utama dapat dijadikan sebagai variable terikat (dependent variable). Selanjutnya dapat cari pendukung untuk membahas permasalahan utama tersebut melalui data-data ataupun informasi-informasi yang mendukung bagi topik yang akan dibahas.  Untuk mendukung topik penelitian yang akan diambil dapat dilakukan dengan pengkajian dari pustaka-pustaka yang ada yang memuat hasil-hasil penelitian seputar topik yang akan dibahas.  Dengan melihat penelitian sebelumnya dapat ditunjukkan bahwa penelitian yang akan dilakukan masih layak untuk dilakukan.  Topik yang pernah diteliti dapat juga dilakukan penelitian ulang, dengan catatan bahwa penelitian yang akan disampaikan dapat memberikan teori baru ataupun setidaknya dapat memperkuat penelitian sebelumnya. 
Andrik Purwasito (2004), menyebutkan bahwa latar belakng masalah setidaknya memuat hal-hal sebagai berikut:
1.      Factor-faktor yang menjadi perhatian untuk dijadikan suatu latar belakang (identifikasi masalah yang relevan.
2.      Informasi kasus, baik secara langsung lewat pengamatan di lapangan,  ataupun melalui referensi tulisan (buku, laporan penelitian atau sejenisnya).
3.      Persoalan yang akan dijawab melalui penulisan karya tulis atau laporan penelitian tersebut.  Setiap masalah yang akan dijawab sebaiknya disampaikan sebagai problematika yang akan dibahas dalam bab-bab selanjutnya.
 B.   Identifikasi dan Rumusan Masalah

Identifikasi masalah adalah upaya untuk mengenali faktor-faktor penyebab berdasarkan teori yang sudah ada maupun  hasil penelitian sebelumnya melalui jurnal, khususnya pada bagian akhir yaitu pada rekomendasi / saran untuk penelitian lanjutan (hapzi ali dalam https://hapzi-ali.com/daftar-ebook/ebook-metodologi-penelitian/bab-4-identifikasi-pembatan-dan-rumusan-masalah/; Aritonang, 2016: 9.5).
Masalah-masalah yang ada mengenai suatu topik dapat diidentifikasi setelah dilakukan penelaahan literature, khususnya jurnal.  Tiap masalah yang diidentifikasi dirumuskan dalam kalimat pertanyaan, yang mencakup variable-variabel dan kaitan antara variable itu secara eksplisit.  Selain mengenai variable, identifikasi masalah juga dapat mengacu pada instrument yang digunakan.
Kenyataan di lapangan, bahwa untuk menentukan factor-faktor penyebab permasalahan sangat banyak, sehingga akan sulit dilakukan penelitian dengan keterbatasan anggaran, tenaga dan juga waktu.  Oleh karenanya dalam penelitian perlu ada pembatasan permasalahan sebagai variable-variabel bebas.  Pembatasan masalah yang akan diteliti dapat didasarkan pada keluasan dan kedalamannya.  Dari segi keluasan, kita hanya dapat meneliti variable-variabel tertentu untuk menjelaskan variable terikat.  Untuk pembatasan dari segi pendalamannya, dapat saja bahwa penelitian yang kita lakukan adalah untuk menambah variable baru dari suatu model, atau jika mampu dapat juga mengevaluasi teori yang sudah mapan.
Pembatasan masalah dalam penelitian harus bersifat obyektif, dan sebaiknya didasarkan pada referensi tertentu.  Kita juga dapat membatasi masalah penelitian pada masalah yang pernah diteliti oleh orang lain (penelitian replikasi).  Agar tidak terkesan menjiplak, kita harus bisa membuat proposal penelitian sedemikian rupa, dan juga disertakan dengan alasan yang logis dan obyektif.  Selain itu agar juga harus didukung dengan referensi yang banyak berbeda daripada yang digunakan pada penelitian yang direplikasi (Aritonang, 2016).
Setelah dilakukan pembatasan masalah, maka masalah-masalah yang sudah teridentifikasi dan dibatasi hanya pada variable-variabel tertentu, maka dilanjutkan dengan perumusan masalah.  Rumusan masalah biasanya dibuat dalam bentuk kalimat tanya, atau setidaknya mengandung kata-kata yang menyatakan persoalan atau pertanyaan, yakni: apa, siapa, berapa, seberapa. Sejauhmana, bagaimana dan masih banyak lagi (dikutip dari: https://saripedia.wordpress.com/ tag/bagian-bagian-karya-ilmiah). 
 C.   Tujuan Penelitian  

Tujuan penelitian merupakan pengungkapan terhadap apa yang hendak dicapai dengan penelitian yang akan dilakukan.  Pengungkapan tersebut berupa pengujian secara empiris kaitan antar variable yang terdapat dalam rumusan masalah penelitian.  Oleh karenanya jumlah tujuan penelitian seharusnya sama dengan jumlah rumusan masalah, atau dalam kata lain tujuan penelitian harus sejajar dengan rumusan masalah.  Misalnya: (1) rumusan masalah: apakah ada pengaruh X terhadap Y, maka tujuan penelitian: menentukan ada tidaknya pengaruh X terhadap Y, (2) rumusan masalah: apakah ada hubungan antara X dan Y, maka tujuan penelitian: menentukan ada tidaknya hubungan antara X dan Y, (3) rumusan masalah: bagaimanakah persepsi peneliti terhadap pelayanan akademik, maka tujuannya adalah mendiskripsikan persepsi tersebut.
 D.  Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian mengacu pada hasil penelitian yang akan diperoleh jika penelitian tersebut telah selesai.  Manfaat penelitian dapat berupa manfaat praktis (aplikasi) maupun teoritis (implikasi).  Manfaat praktis penelitian adalah bagaimana kita menjelaskan bahwa penelitian yang kita lakukan bermanfaat bagi siapa, dan apa manfaatnya.  Pada penelitian praktis, manfaat praktis dan teoritis hasilnya dapat diidentifikasi, sedangkan pada penelitian teoritis, manfaat praktis kemungkinan tidak Nampak atau tidak ada, sedangkan manfaat teoritis harus ada (Aritonang, 2016)  
          
                                                                                                                                   





























































































III.      PENUTUP


Salah satu bagian utama dari proposal penelitan ataupun laporan penelitian adalah bagian pendahuluan.  Pada bagian ini terdiri atas latar belakang perlunya diadakan penelitian, identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian dan terakhir adalah manfaat penelitian.  Bab pertama (bab pendahuluan) harus memberikan informasi yang jelas dan menarik terkait pentingnya penelitian ini dilakukan. Antara latarbelakang, perumusan masalah dan tujuan penelitian harus saling terkait antara sub bagian tersebut.
 

REFERENSI:
 Riadi, Muchlisin. 2014. Latar belakang Masalah Penelitian (didownload dari web: https://www.kajianpustaka.com/2014/04/latar-belakang-masalah-penelitian.html pada tanggal 21 April 2018)
 Ali, Hapzi. Identifikasi, Pembatasan dan Rumusan Masalah (didownload dari web: https://hapzi-ali.com/daftar-ebook/ebook-metodologi-penelitian/bab-4-identifikasi-pembatan-dan-rumusan-masalah/, pada tanggal 21 April 2018)
Aritonang, Lerbin Roberto. 2016. Buku Materi Pokok: Metode Penelitian Bisnis, Modul: 9. Universitas Terbuka Metode Penulisan Karya Ilmiah (2) didownload dari web: https://saripedia.woedpress.com/tag/ bagian-bagian-karya-ilmiah/, pada tanggal 21 April2018
x